Senin, 10 Agustus 2015

Pentingnya Mengetahui Bahaya Mendengkur Saat Tidur

Banyak orang beranggapan bahwa tidur mendengkur atau ngorok adalah hal biasa dan sering dialami oleh banyak orang. Mereka mempersepsikan hal itu terjadi karena dipengaruhi faktor kelelahan. Lantas, bagaimana jika Anda sedang tidak merasa lelah tapi tetap aja ngorok atau mendengkur ketika sedang tidur? Jika sudah seperti itu, Anda wajib mewaspadainya. Sebab, terdapat beberapa masalah kesehatan yang erat kaitannya dengan kebiasaan ngorok tersebut.

Mendengkur juga sering disebut dengan istilah ‘sleep apnea’ yaitu henti nafas dikarenakan sempitnya saluran pernafasan sehingga oksigen yang masuk ke dalam tubuh pun menjadi berkurang. Sebuah penelitian yang dilakukan di Detroit, Amerika Serikat mengungkapkan bahwa mendengkur berbahaya bagi kesehatan tubuh. Pada umumnya, pendengkur mempunyai risiko tinggi terhadap terjadinya penebalan pembuluh darah karotid (yaitu pembuluh darah yang mengatur aliran darah ke leher, kepala, dan otak).

dr. Andreas Prasadja, R.P.S.G.T, Ahli Sleep Physician di Sleep Disorder Clinic RS Mitra Kemayoran mengutarakan bahwa seorang pendengkur cenderung mengalami ‘bangun singkat (microarousal)’ pada saat tidur malam. Waktu tidur yang terpotong-potong tersebut mengakibatkan naiknya aktifitas saraf simpatis. Sehingga berisiko meningkatkan denyut jantung, tekanan darah, kadar gula darah, dan tingkat kekentalan darah. Beberapa jurnal kedokteran juga menyatakan jika sleep apnea menyebabkan berbagai penyakit, seperti jantung koroner, stroke, diabetes, dan hipertensi.

Berikut risiko penyakit yang ditimbulkan dari kebiasaan mendengkur: 
1. Hipertensi 
Pada Tahun 2003, badan peduli penyakit Tekanan darah tinggi ‘Joint National Committe on Prevention, Detection, Evalution, and Treatment of Hig Blood Pressure’, telah menyatakan bahwa mendengkur (sleep apnea) merupakan salah satu penyebab utama dari penyakit ‘silent killer’ atau hipertensi. Penuturan dr. Candra Wibowo, SpPD, FINASIM dari RS. Mitra Kemayoran bahwa 40% pengidap gangguan tidur telah menderita penyakit hipertensi.

2. Diabetes 
Penyempitan saluran pernafasan yang terjadi pada penderita sleep apnea menyebabkan rendahnya kadar oksigen yang masuk ke dalam tubuh. Para ilmuwan memaparkan jika menurunnya kadar oksigen dapat memicu kenaikan hormon kortisol (hormon pemicu stres). Dimana kenaikan hormon kortisol ini menyebabkan peningkatan kadar gula darah (glukosa). Seorang pendengkur berat yang juga menderita obesitas berisiko terserang diabetes hingga 50%.

3. Jantung 
Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Henry Forn Hospital, Amerika Serikat menyatakan bahwa dengkuran menyebabkan penebalan pembuluh darah di leher, yaitu arteri karotid. Dalam jangka waktu lama, hal tersebut memicu terjadinya pengerasan pembuluh darah (asterosklerosis) yang berdampak pada timbulnya penyakit kardiovaskular, yaitu jantung dan stroke. Penelitian lain di journal of The American College of Cardiology, tahun 2013 menjelaskan jika para penderita sleep apnea mempunyai risiko terserang penyakit jantung lebih besar, yaitu 40% dibandingkan orang normal yang tidak mendengkur.

4. Stroke 
Penebalan pembuluh darah karotid pada penderita sleep apnea menyebabkan asteroklerosis hingga memicu penyakit stroke. Selain itu, peningkatan kekentalan darah yang terjadi pada orang yang terbiasa mendengkur juga menjadi pemicu meningkatnya risiko terserang stroke.

5. Gangguan Otak 
Kurangnya suplai oksigen yang masuk ke otak karena menyempitnya saluran pernafasan pada penderita sleep apnea menyebabkan terganggunya kinerja otak. Berdasarkan pemaparan di jurnal Sleep, menyebutkan bahwa penderita sleep apnea mempunyai risiko terserang kerusakan otak permanen. Kerusakan tersebut terjadi pada bagian otak yang mengatur emosi, tekanan darah, dan ingatan (memori).

Nah, mengingat bahaya yang ditimbulkan dari kebiasaan mendengkur, maka ada baiknya jika Anda mulai mengatasi dengkuran tersebut dengan cara menerapkan pola hidup sehat, rutin berolahraga, mengindari makanan berat sebelum tidur, mengindari kafein berlebihan, dan mencoba tidur dengan posisi menyamping, atau dapat pula mengatur posisi kepala yang lebih tinggi saat tidur.

sumber: kesekolah.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar