Menekankan pada hal-hal yang salah sering kali orang tua mengeluhkan perilaku
anak-anaknya yang sering tidak akur, sering bertengkar. Ketika mereka
bertengkar, mungkin kita melerai atau memarahi mereka. Akan tetapi,
ketika mereka sedang akur, bermain dengan baik, apa yang kita lakukan?
Seringkali kita diam saja karena menganggap tidak ada yang perlu
di-omong-in. Toh mereka sudah asyik bermain dengan baik. Orangtua adalah
sumber referensi utama perilaku pada anak. Jika kita ingin memiliki
anak yang berprilaku baik, maka berkacalah pada diri sendiri terlebih
dahulu. Dengan membiasakan diri berperilaku baik dalam kehidupan
sehari-hari anak pun juga akan meniru perilaku baik Anda.
Berikut kebiasaan orangtua yang menghasilkan perilaku buruk pada anak:
1. Emosional
Hindari kebiasaan emosional seperti cepat marah kepada anak, karena anak cenderung percaya bahwa hal buruk yang menyebabkan Anda marah karena kesalahan mereka.
2. Lebih menekankan pada hal yang buruk daripada yang baik
Sebagai contoh jika anak berbuat salah orangtua langsung memarahi sedangkan pada saat dia berbuat kebaikan dianggap hal biasa dan tidak ada ucapan penghargaan kepada anak. Sikap yang lebih memperhatikan kesalahan anak bisa memicu anak untuk mengulangi kesalahan atau melakukan hal buruk yang lain. Mengapa demikian ? karena anak akan menganggap dengan melakukan kesalahan, orang tua lebih memerhatikan mereka.
3. Berbohong demi kebaikan
Apapun alasannya,berbohong bukanlah suatu hal yang baik,apalagi jika melakukannya di depan anak atau membohongi anak secara langsung.
4. Hindari sikap mengancam
Perintah tanpa adanya komunikasi yang baik dengan cara memandang wajah anak saat berbicara akan berpengaruh buruk pada anak. Jika hendak memberitahu bahwa anak salah sebaiknya Anda berbicara dengan menatap anak dengan lembut dan perlihatkan ekspresi bahwa Anda tidak suka dengan apa yang dia lakukan.
5. Memberikan predikat yang buruk
Kebiasaan memberikan predikat yang buruk pada anak akan berdampak psikologis yang buruk pada anak. Anak akan menjadi tidak percaya diri, minder merasa bodoh dan anak akan merasa benci pada dirinya sendiri.
6. Terlalu sering memegang gadget
Sebaiknya saat sedang bersama anak, simpanlah gadget Anda dan bermainlah dengan dengan anak Anda. Kebiasaan yang selalu memegang gadget menciptakan kebiasaan anak untuk trus bermain gadget dan mengubah pola pikir anak bahwa kegiatan di luar rumah untuk bermain dengan teman sebaya tidak penting karena bermain gadget jauh lebih menyenangkan.
Jika salah satu kebiasaan di atas pernah Anda lakukan, marilah kita menghentikan kebiasaan tersebut dan menggantinya dengan kebiasaan baik demi masa depan anak kita tercinta.
sumber: kesekolah.com
Selasa, 18 November 2014
Senin, 17 November 2014
Sering Memuji Anak Lebih Banyak Buruknya Dibanding Manfaat
Ketika anak melakukan sesuatu hal yang hebat, sebagai orangtua apa yang Anda
lakukan? Pasti Anda memujinya. Namun, sebaiknya berhati-hatilah untuk
terlalu sering memuji mereka, karena salah-salah pujian ini justru
memberi dampak buruk bagi mereka. Pujian atau labeling positif pada anak
di satu sisi memang bisa membangkitkan semangat anak, tapi di sisi lain
bisa juga memberi pengaruh buruk. Memberikan pujian kepada anak
ternyata tidak selamanya baik.
Seorang psikolog terkemuka di Inggris, Stephen Grosz, mengungkapkan, terlalu memuji anak bisa merusak kepercaya anak. Sebaliknya, orangtua ataupun guru mengurangi memberikan pujian dan mengutarakan rasa dengan mengucapkan selamat kepada anak-anak agar berusaha lebih keras lagi.
Grosz mengatakan, pujian kosong sama buruknya dengan kritik yang tidak dipikirkan. Itu mengungkapkan ketidakpedulian terhadap perasaan dan pikiran anak. Memuji anak-anak bisa mengangkat perasaan harga diri kita hanya sesaat tapi tidak banyak melakukan untuk perasaan percaya diri anak-anak.
Jika Anda mengatakan pada anak yang percaya dirinya rendah bahwa mereka telah melakukan sesuatu dengan sangat bagus, maka mereka akan berpikir untuk selalu mengerjakan segala sesuatu sebaik mungkin dan harus membuat orang lain kagum.
Hal itu menyebabkan anak tidak berani mengambil tugas atau belajar sesuatu yang di atas standar dan lebih memilih mengerjakan yang mudah. Akibatnya, mereka enggan menerima tantangan baru. Padahal, tantangan diperlukan agar kemampuan kognitif, emosional maupun teknis semakin berkembang.
Grosz juga mengutip penelitian yang menunjukkan kalau anak-anak yang sering dipuji kemungkinan akan tampil buruk di sekolah. Daripada terlalu memuji anak, orangtua harus mencoba untuk membangun kepercayaan diri anaknya dengan lembut.
sumber: kesekolah.com
Seorang psikolog terkemuka di Inggris, Stephen Grosz, mengungkapkan, terlalu memuji anak bisa merusak kepercaya anak. Sebaliknya, orangtua ataupun guru mengurangi memberikan pujian dan mengutarakan rasa dengan mengucapkan selamat kepada anak-anak agar berusaha lebih keras lagi.
Grosz mengatakan, pujian kosong sama buruknya dengan kritik yang tidak dipikirkan. Itu mengungkapkan ketidakpedulian terhadap perasaan dan pikiran anak. Memuji anak-anak bisa mengangkat perasaan harga diri kita hanya sesaat tapi tidak banyak melakukan untuk perasaan percaya diri anak-anak.
Jika Anda mengatakan pada anak yang percaya dirinya rendah bahwa mereka telah melakukan sesuatu dengan sangat bagus, maka mereka akan berpikir untuk selalu mengerjakan segala sesuatu sebaik mungkin dan harus membuat orang lain kagum.
Hal itu menyebabkan anak tidak berani mengambil tugas atau belajar sesuatu yang di atas standar dan lebih memilih mengerjakan yang mudah. Akibatnya, mereka enggan menerima tantangan baru. Padahal, tantangan diperlukan agar kemampuan kognitif, emosional maupun teknis semakin berkembang.
Grosz juga mengutip penelitian yang menunjukkan kalau anak-anak yang sering dipuji kemungkinan akan tampil buruk di sekolah. Daripada terlalu memuji anak, orangtua harus mencoba untuk membangun kepercayaan diri anaknya dengan lembut.
sumber: kesekolah.com
Gangguan Kesehatan Bisa Dilihat dari Wajah
Kondisi kesehatan tubuh seseorang bisa tercermin pada kulit wajahnya. Kulit
yang normal bisa dilihat saat Anda merasa sangat bugar dan sehat. Jadi,
amatilah bila kulit wajah mengalami perubahan. Di China, ada ahli yang
konon dapat meramal masa depan dan nasib seseorang hanya dengan melihat
wajahnya. Bahkan kondisi kesehatan dan sifat orang tersebut pun dapat
ditebak hanya dengan memperhatikan bentuk dan letak bagian wajahnya.
Boleh percaya boleh tidak, namun ternyata analisis tentang kondisi wajah
seseorang ini secara medis memang terkait dengan gambaran kesehatannya.
Berikut beberapa ulasan singkat tentang keadaan kesehatan seseorang berdasarkan kondisi bagian wajahnya:
Pipi
Amati keadaan pipi Anda dengan cermin. Jika terlihat ruam atau bintik kemerahan, maka hal tersebut bisa merupakan indikasi bahwa sistem pernafasan Anda sedang terganggu dan Anda kekurangan oksigen. Ambil nafas dalam-dalam bisa sedikit mengatasi hal tersebut.
Bibir/daerah mulut
Organ wajah yang satu ini berhubungan dengan keadaan perut, terutama lambung dan usus. Jika bibir kering, maka ada indikasi masalah pencernaan. Sedangkan gusi berdarah bisa jadi pertanda asam lambung Anda sedang tinggi.
Dagu
Dagu punya korelasi dengan organ ginjal dan kemih. Bila keadaan dagu Anda tidak mulus, alias nampak berjerawat, maka sebaiknya Anda mulai banyak minum air putih danmemeriksakan kondisi ginjal ke dokter.
Dahi
Dahi punya hubungan dengan beberapa organ penting semisal jantung, usus kecil dan kemih. Jika nampak kulit di sekitar dahi menjadi tak sehat, kemerahan dan berjerawat, maka perbanyak makan yang alami dan kurangi makanan berkolesterol.
Alis
Ini indikasi paling mudah jika Anda sedang mengalami stres. Jika nampak Alis Anda tidak rileks, maka sebaiknya Anda mulai bersikap santai dan jauhi stres.
Semoga bermanfaat..
sumber: kesekolah.com
Berikut beberapa ulasan singkat tentang keadaan kesehatan seseorang berdasarkan kondisi bagian wajahnya:
Pipi
Amati keadaan pipi Anda dengan cermin. Jika terlihat ruam atau bintik kemerahan, maka hal tersebut bisa merupakan indikasi bahwa sistem pernafasan Anda sedang terganggu dan Anda kekurangan oksigen. Ambil nafas dalam-dalam bisa sedikit mengatasi hal tersebut.
Bibir/daerah mulut
Organ wajah yang satu ini berhubungan dengan keadaan perut, terutama lambung dan usus. Jika bibir kering, maka ada indikasi masalah pencernaan. Sedangkan gusi berdarah bisa jadi pertanda asam lambung Anda sedang tinggi.
Dagu
Dagu punya korelasi dengan organ ginjal dan kemih. Bila keadaan dagu Anda tidak mulus, alias nampak berjerawat, maka sebaiknya Anda mulai banyak minum air putih danmemeriksakan kondisi ginjal ke dokter.
Dahi
Dahi punya hubungan dengan beberapa organ penting semisal jantung, usus kecil dan kemih. Jika nampak kulit di sekitar dahi menjadi tak sehat, kemerahan dan berjerawat, maka perbanyak makan yang alami dan kurangi makanan berkolesterol.
Alis
Ini indikasi paling mudah jika Anda sedang mengalami stres. Jika nampak Alis Anda tidak rileks, maka sebaiknya Anda mulai bersikap santai dan jauhi stres.
Semoga bermanfaat..
sumber: kesekolah.com
Rabu, 12 November 2014
Jadilah Pendengar yang Baik bagi Anak
Sebagian besar orang tua pendengar yang buruk bagi anak-anaknya. Benarkah? Bila
ada suatu masalah yang terjadi pada anak, orang tua suka menyela
langsung menasehati tanpa mau bertanya permasalahannya serta asal-usul
kejadiannya. Sebagai orang tua ada kalanya kita perlu menjadi pendengar
bagi anak-anak. Kemampuan ini menunjukkan kepada anak bahwa orang tua
menerima apa yang dia katakan dan orang tua menghargai pandangan, ide
dan perasaannya. Mendengar bukanlah aktivitas pasif tetapi merupakan
salah satu aktivitas utama. Ketika orang tua memposisikan diri sebagai
pendengar yang baik, anak merasa dihargai, dicintai dan tumbuhlah
kepercayaan diriya.
Berikut beberapa hal agar kita menjadi pendengar yang baik bagi anak:
1. Luangkan waktu
Hal dasar untuk menjadi pendengar yang baik adalah meluangkan waktu sesibuk apapun kita. Sediakanlah waktu khusus untuk mendengarkan cerita mereka dan pastikan mereka tidak merasa kekurangan waktu bersama kita.
2. Berikan pertanyaan
Pancing kreativitas anak dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang mampu membuat mereka bercerita lebih banyak. Berikan juga pertanyaan tentang apa yang telah ia pelajari dan lakukan hari ini.
3. Koreksi ucapan yang kurang benar
Anak biasanya mengucapkan kata-kata dengan salah. Ketika mereka mengucapkan kata-kata dengan salah, jangan ditertawakan ataupun menirukannya. Jangan pula menggunakan bahasa kekanakan-kanakan yang tidak jelas dengan maksud menyesuaikan gaya bicara mereka. Jika kita melakukannya, kita telah memberikan contoh bahasa yang salah kepada anak. Begitu pula bila anak mengucapkan kata-kata yang tidak pantas, berikan koreksi pada mereka dan beri tahu bahwa kata-kata tersebut tidak pantas diucapkan.
4. Beri respon
Jangan setengah-setengah memberikan saat menjadi pendengar yang baik. Berikan respon agar anak merasa bahwa kita tertarik dengan ceritanya. Tatapan mata dan gerak tubuh bisa menjadi indikasi bahwa kita merespon ceritanya. Ketika kita mendengarkan cerita anak sambil memasak ataupun melakukan aktivitas, pastikan kita memberikan kode bahwa kita mendengarkan meskipun kita tidak menatap matanya.
5. Berikan solusi
Ketika anak menceritakan kenakalan teman-temannya, jangan mengompori mereka untuk bertindak nakal maupun membalas dendam. berikanlah solusi agar mereka dapat menyelesaikan masalah di sekolah atau taman bermain tanpa mengadu domba mereka. Katakanlah pula apa yang harus dilakukan ketika anak menghadapi sesuatu.
Ingat, orang dewasa adalah panutan bagi anak-anak. Maka berikan contoh baik kepada mereka.
sumber: kesekolah.com
Berikut beberapa hal agar kita menjadi pendengar yang baik bagi anak:
1. Luangkan waktu
Hal dasar untuk menjadi pendengar yang baik adalah meluangkan waktu sesibuk apapun kita. Sediakanlah waktu khusus untuk mendengarkan cerita mereka dan pastikan mereka tidak merasa kekurangan waktu bersama kita.
2. Berikan pertanyaan
Pancing kreativitas anak dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang mampu membuat mereka bercerita lebih banyak. Berikan juga pertanyaan tentang apa yang telah ia pelajari dan lakukan hari ini.
3. Koreksi ucapan yang kurang benar
Anak biasanya mengucapkan kata-kata dengan salah. Ketika mereka mengucapkan kata-kata dengan salah, jangan ditertawakan ataupun menirukannya. Jangan pula menggunakan bahasa kekanakan-kanakan yang tidak jelas dengan maksud menyesuaikan gaya bicara mereka. Jika kita melakukannya, kita telah memberikan contoh bahasa yang salah kepada anak. Begitu pula bila anak mengucapkan kata-kata yang tidak pantas, berikan koreksi pada mereka dan beri tahu bahwa kata-kata tersebut tidak pantas diucapkan.
4. Beri respon
Jangan setengah-setengah memberikan saat menjadi pendengar yang baik. Berikan respon agar anak merasa bahwa kita tertarik dengan ceritanya. Tatapan mata dan gerak tubuh bisa menjadi indikasi bahwa kita merespon ceritanya. Ketika kita mendengarkan cerita anak sambil memasak ataupun melakukan aktivitas, pastikan kita memberikan kode bahwa kita mendengarkan meskipun kita tidak menatap matanya.
5. Berikan solusi
Ketika anak menceritakan kenakalan teman-temannya, jangan mengompori mereka untuk bertindak nakal maupun membalas dendam. berikanlah solusi agar mereka dapat menyelesaikan masalah di sekolah atau taman bermain tanpa mengadu domba mereka. Katakanlah pula apa yang harus dilakukan ketika anak menghadapi sesuatu.
Ingat, orang dewasa adalah panutan bagi anak-anak. Maka berikan contoh baik kepada mereka.
sumber: kesekolah.com
Faktor Penyebab Darah Tinggi
Tekanan darah tinggi atau hipertensi adalah kondisi umum di mana cairan darah
dalam tubuh menekan dinding arteri dengan cukup kuat hingga akhirnya
menyebabkan masalah kesehatan, seperti penyakit jantung. Tekanan darah
ditentukan dengan jumlah darah yang dipompa jantung dan jumlah
resistensi terhadap aliran darah pada arteri Anda. Semakin banyak darah
dipompa jantung Anda dan arteri Anda menyempit, tekanan darah akan
meningkat. Secara medis, hipertensi merupakan sebuah kondisi dimana
cairan tubuh menekan arteri dengan kuat. Dalam jangka waktu lama,
penyakit darah tinggi dapat memicu penyakit-penyakit lain, misalnya
sakit jantung. Meski begitu, kebanyakan penderita darah tinggi belum
memahami secara jelas apa saja faktor penyebab penyakit darah tinggi
ini.
Berikut faktor yang dapat menyebabkan darah tinggi:
1. Faktor keturunan
Seperti warna kulit dan ciri fisik, penyakit tekanan darah tinggi pun juga bisa diwariskan. Jadi jika salah satu atau bahkan kedua orang tua Anda menderita tekanan darah tinggi, maka kemungkinan Anda juga akan mengalami hal yang sama.
2. Faktor gender
Pada usia menjelang 45 tahun, laki-laki akan lebih beresiko mengalami tekanan darah tinggi. Sedangkan pada usia 45 hingga 65, baik laki-laki maupun perempuan akan sama-sama beresiko. Namun, setelah usia 65 tahun, justru perempuan lah yang lebih beresiko.
3. Faktor Usia
Pertambahan usia akan menyebabkan seseorang semakin beresiko mengalami tekanan darah tinggi. Hal ini disebabkan karena tubuh yang semakin tua akan mengalami penurunan elastisitas pembuluh darah sehingga beresiko mengalami penyempitan pembuluh darah. Akibatnya, tekanan darah pun akan semakin meningkat.
4. Faktor gaya hidup
Bagi Anda yang tinggal diperkotaan, sibuk bekerja, terlalu banyak duduk, dan kurang olahraga akan lebih rentan mengalami penyempitan pembuluh darah. Akibatnya, Anda akan lebih beresiko mengalami tekanan darah tinggi. Selain itu, bagi Anda yang terbiasa mengkonsumsi alkohol juga lebih beresiko mengalami tekanan darah tinggi. Konsumsi alkohol akan meningkatkan trigliserida dalam darah. Trigliserida adalah kolesterol yang jahat yang berpotensi menyebabkan tekanan darah meningkat.
5. Faktor pola makan
Makanan tinggi kalori, lemak, dan gula terbukti berbahaya bagi kesehatan karena akan meningkatkan resiko darah tinggi. Selain itu, makanan-makanan bergaram juga tidak kalah berbahanya. Jadi, demi kesehatan, mulailah untuk mengurangi konsumsi makanan-makanan tersebut.
6. Faktor stres
Stres erat kaitannya dengan darah tinggi. Hal ini disebabkan karena saat stres, hormon adrenalin akan meningkat sehingga mengakibatkan jantung memompa darah lebih cepat dan tekanan darah pun meningkat. Parahnya lagi, ketika stres orang akan cenderung melahap apapun yang membuatnya lebih tenang dan senang. Hasilnya, tekanan darah bisa naik dengan drastis.
Nah, sebaiknya Anda mulai mengurangi kebiasaan-kebiasaan buruk yang selama ini Anda lakukan dan mungkin akan menyebabkan terjadinya tekanan darah tinggi.
sumber: kesekolah.com
Berikut faktor yang dapat menyebabkan darah tinggi:
1. Faktor keturunan
Seperti warna kulit dan ciri fisik, penyakit tekanan darah tinggi pun juga bisa diwariskan. Jadi jika salah satu atau bahkan kedua orang tua Anda menderita tekanan darah tinggi, maka kemungkinan Anda juga akan mengalami hal yang sama.
2. Faktor gender
Pada usia menjelang 45 tahun, laki-laki akan lebih beresiko mengalami tekanan darah tinggi. Sedangkan pada usia 45 hingga 65, baik laki-laki maupun perempuan akan sama-sama beresiko. Namun, setelah usia 65 tahun, justru perempuan lah yang lebih beresiko.
3. Faktor Usia
Pertambahan usia akan menyebabkan seseorang semakin beresiko mengalami tekanan darah tinggi. Hal ini disebabkan karena tubuh yang semakin tua akan mengalami penurunan elastisitas pembuluh darah sehingga beresiko mengalami penyempitan pembuluh darah. Akibatnya, tekanan darah pun akan semakin meningkat.
4. Faktor gaya hidup
Bagi Anda yang tinggal diperkotaan, sibuk bekerja, terlalu banyak duduk, dan kurang olahraga akan lebih rentan mengalami penyempitan pembuluh darah. Akibatnya, Anda akan lebih beresiko mengalami tekanan darah tinggi. Selain itu, bagi Anda yang terbiasa mengkonsumsi alkohol juga lebih beresiko mengalami tekanan darah tinggi. Konsumsi alkohol akan meningkatkan trigliserida dalam darah. Trigliserida adalah kolesterol yang jahat yang berpotensi menyebabkan tekanan darah meningkat.
5. Faktor pola makan
Makanan tinggi kalori, lemak, dan gula terbukti berbahaya bagi kesehatan karena akan meningkatkan resiko darah tinggi. Selain itu, makanan-makanan bergaram juga tidak kalah berbahanya. Jadi, demi kesehatan, mulailah untuk mengurangi konsumsi makanan-makanan tersebut.
6. Faktor stres
Stres erat kaitannya dengan darah tinggi. Hal ini disebabkan karena saat stres, hormon adrenalin akan meningkat sehingga mengakibatkan jantung memompa darah lebih cepat dan tekanan darah pun meningkat. Parahnya lagi, ketika stres orang akan cenderung melahap apapun yang membuatnya lebih tenang dan senang. Hasilnya, tekanan darah bisa naik dengan drastis.
Nah, sebaiknya Anda mulai mengurangi kebiasaan-kebiasaan buruk yang selama ini Anda lakukan dan mungkin akan menyebabkan terjadinya tekanan darah tinggi.
sumber: kesekolah.com
Selasa, 11 November 2014
Perlunya Mengenali Jenis-Jenis Insomnia
Tidur merupakan salah satu fungsi dari otak,dimana dengan bila fungsi ini
terganggu tentunya dapat menyebabkan masalah pada diri kita. Pemahaman
tentang proses tidur dan terjaga menimbulkan identifikasi dan
klasifikasi terhadap berbagai macam gangguan tidur yang disebut dengan
insomnia.
Insomnia adalah masalah tidur yang sangat mengganggu. Jika normalnya seseorang harus memperoleh waktu tidur selama 8 jam per hari, maka penderita insomnia sulit untuk memenuhinya. Akibatnya aktivitas keseharian mereka akan terganggu akibat kurangnya waktu tidur. Insomnia ternyata terdiri atas beberapa jenis. Jadi bukan hanya satu jenis seperti yang sering disangka oleh orang. Apa saja jenis insomnia yang kerap diderita tersebut?
Berikut jenis-jenis insomnia:
1. Insomnia kebiasaan
Kebiasaan tidur sejak kecil juga berpengaruh terhadap kondisi tidur saat dewasa. Jika Anda sejak kecil tidak dibiasakan untuk tidur dalam waktu tertentu, maka hingga dewasa ini akan berlanjut. Jadi sebaiknya Anda biasakan putra putri sejak kecil memiliki waktu tidur yang teratur, misal jam 9 malam sudah harus tidur. Ini mengurangi insomnia akibat terbiasa begadang.
2. Insomnia idiopatik
Ini adalah masalah tidur yang terjadi bawaan sehingga agak sulit diatasi. Sepanjang hidup masalah ini akan terus terjadi pada penderita. Penyebabnya tidak bisa dijelaskan secara pasti, namun bisa jadi karena adanya faktor alami dalam tubuh semisal ketidakseimbangan siklus tidur.
3. Insomnia biasa
Kondisi ini adalah masalah kesulitan tidur yang umum dialami; misal sudah ngantuk tapi tidak juga bisa terlelap, tidur tapi hanya sebentar, bangun di tengah malam dan sulit tidur lagi hingga berjam-jam, dan sejenisnya. Hal itu tidak terjadi setiap hari, namun mengganggu aktifitas.
4. Insomnia akut
Kondisi ini dipicu oleh stres, bisa stres negatif atau positif. Misalnya stres positif adalah Anda merasa begitu bahagia sehingga tidak bisa tidur. Atau stres negatif, Anda merasa sedih hingga mengganggu waktu tidur Anda. Umumnya insomnia ini akan muncul seiring datangnya stres, dan hilang seiring hilangnya stres.
Nah, jenis insomnia apa yang Anda derita?
sumber: kesekolah.com
Insomnia adalah masalah tidur yang sangat mengganggu. Jika normalnya seseorang harus memperoleh waktu tidur selama 8 jam per hari, maka penderita insomnia sulit untuk memenuhinya. Akibatnya aktivitas keseharian mereka akan terganggu akibat kurangnya waktu tidur. Insomnia ternyata terdiri atas beberapa jenis. Jadi bukan hanya satu jenis seperti yang sering disangka oleh orang. Apa saja jenis insomnia yang kerap diderita tersebut?
Berikut jenis-jenis insomnia:
1. Insomnia kebiasaan
Kebiasaan tidur sejak kecil juga berpengaruh terhadap kondisi tidur saat dewasa. Jika Anda sejak kecil tidak dibiasakan untuk tidur dalam waktu tertentu, maka hingga dewasa ini akan berlanjut. Jadi sebaiknya Anda biasakan putra putri sejak kecil memiliki waktu tidur yang teratur, misal jam 9 malam sudah harus tidur. Ini mengurangi insomnia akibat terbiasa begadang.
2. Insomnia idiopatik
Ini adalah masalah tidur yang terjadi bawaan sehingga agak sulit diatasi. Sepanjang hidup masalah ini akan terus terjadi pada penderita. Penyebabnya tidak bisa dijelaskan secara pasti, namun bisa jadi karena adanya faktor alami dalam tubuh semisal ketidakseimbangan siklus tidur.
3. Insomnia biasa
Kondisi ini adalah masalah kesulitan tidur yang umum dialami; misal sudah ngantuk tapi tidak juga bisa terlelap, tidur tapi hanya sebentar, bangun di tengah malam dan sulit tidur lagi hingga berjam-jam, dan sejenisnya. Hal itu tidak terjadi setiap hari, namun mengganggu aktifitas.
4. Insomnia akut
Kondisi ini dipicu oleh stres, bisa stres negatif atau positif. Misalnya stres positif adalah Anda merasa begitu bahagia sehingga tidak bisa tidur. Atau stres negatif, Anda merasa sedih hingga mengganggu waktu tidur Anda. Umumnya insomnia ini akan muncul seiring datangnya stres, dan hilang seiring hilangnya stres.
Nah, jenis insomnia apa yang Anda derita?
sumber: kesekolah.com
Pola Emosional Bayi yang Wajib Dipahami
Anak yang memasuki usia balita menunjukkan emosinya bukan hanya dengan
menangis. Mereka bisa marah sambil melempar barang atau bahkan memukul.
Ketika melihat anak melakukan tindakan tersebut, hal yang sebenarnya
bisa membantu si kecil mengatasi kemarahannya adalah dengan melihat
perilakunya itu dari perspektifnya. Balita juga memiliki pola emosional
yang hampir sama dengan orang dewasa. Hanya saja kemampuan untuk
mengkomunikasikan dan mengekspresikannya sedikit berbeda. Untuk itu
sangat penting bagi Anda untuk memahami pola emosional yang dimiliki
bayi.
Secara umum pola emosional bayi meliputi rasa kemarahan, ketakutan, kegembiraan, Rasa ingin tahu dan afeksi. Lantas apa saja yang perlu Anda ketahui dan pahami terkait pola emosional bayi ini? Berikut panduan yang semoga bisa membantu Anda.
1. Kemarahan.
Bayi biasanya akan mengekspresikan perasaan marahnya dengan menangis, berteriak, meronta-ronta, menendang, dan sebagainya. Perasaan marah pada bayi biasanya dipicu karena adanya sesuatu yang tidak ia kehendaki terjadi padanya. Misalnya ketika ia sedang menginginkan sesuatu namun Anda tidak memberikan apa yang ia inginkan seperti ketika ia sedang merasa lapar namun Anda tidak segera menyusuinya.
2. Ketakutan.
Hal yang mudah membangkitkan ketakutan bayi adalah suara keras, orang asing, benda aneh, tempat gelap atau tinggi dan binatang. Begitu juga bila ada hal yang tiba-tiba atau tidak lazim yang baru pertama kali dilihatnya. Reaksi dari rasa takutnya adalah kaget, menangis, merengek, menahan nafas, sampai menjauhkan diri dari pemicu takut. Agar bayi tidak mudah takut, beri ia kesempatan untuk bergaul dengan lingkungan di luar rumahnya atau mengenal benda-benda yang aneh dan asing. Dengan demikian ia akan mudah beradaptasi bila melihat hal atau suasana baru lainnya.
3. Kegembiraan.
Rasa senang atau gembira bayi ditunjukkan dalam bentuk senyuman, tertawa, serta sikap menggerak-gerakkan kedua tangan dan kakinya. Rasa gembira pada bayi akan muncul mana kala Anda mengejaknya bercanda, berbicara, dan memperlihatkannya sesuatu yang ia sukai.
4. Rasa Ingin Tahu.
Benda yang pertama dilihatnya atau hal-hal yang menyolok dapat merangsang ingin tahu bayi. Ia menunjukkan rasa ingin tahunya dengan ekspresi wajah aseoerti, menegangkan otot muka, membuka mulut dan menjulurkan lidah. Kemudian bayi mulai mengambil benda yang menggelitik rasa ingin tahunya dengan memegang, membolak-balik, melempar atau memasukkan ke mulutnya. Tetapi terkadang rasa ingin tahu bayi bisa saja membahayakan seperti menarik-narik taplak meja karena bisa saja ia tertimpa benda yang berada di atasnya. Singkirkan benda-benda berbahaya sementara waktu dan alihkan perhatiannya pada hal-hal lain yang aman agar tetap terpenuhi rasa ingin tahunya.
5. Afeksi.
Yang ditunjukkan pada buah hati tercinta seperti kasih sayang, perhatian, perawatan akan menumbuhkan pula afeksi bayi. Ia akan menunjukkan sikap afeksinya dengan mencium atau memeluk orang, benda, atau binatang sebagai ungkapan rasa cintanya. Saat bayi terjaga ia menghendaki perhatian lebih dari orang-orang di sekitarnya. Mula-mula bayi merasa aman ditinggal lalu sesaat kemudian ia akan rewel dan marah untuk menunjukkan ia bosan dan ingin diperhatikan. Bertambahnya usia bertambah pula tuntutan bayi untuk diperhatikan dan dicintai.
sumber: kesekolah.com
Secara umum pola emosional bayi meliputi rasa kemarahan, ketakutan, kegembiraan, Rasa ingin tahu dan afeksi. Lantas apa saja yang perlu Anda ketahui dan pahami terkait pola emosional bayi ini? Berikut panduan yang semoga bisa membantu Anda.
1. Kemarahan.
Bayi biasanya akan mengekspresikan perasaan marahnya dengan menangis, berteriak, meronta-ronta, menendang, dan sebagainya. Perasaan marah pada bayi biasanya dipicu karena adanya sesuatu yang tidak ia kehendaki terjadi padanya. Misalnya ketika ia sedang menginginkan sesuatu namun Anda tidak memberikan apa yang ia inginkan seperti ketika ia sedang merasa lapar namun Anda tidak segera menyusuinya.
2. Ketakutan.
Hal yang mudah membangkitkan ketakutan bayi adalah suara keras, orang asing, benda aneh, tempat gelap atau tinggi dan binatang. Begitu juga bila ada hal yang tiba-tiba atau tidak lazim yang baru pertama kali dilihatnya. Reaksi dari rasa takutnya adalah kaget, menangis, merengek, menahan nafas, sampai menjauhkan diri dari pemicu takut. Agar bayi tidak mudah takut, beri ia kesempatan untuk bergaul dengan lingkungan di luar rumahnya atau mengenal benda-benda yang aneh dan asing. Dengan demikian ia akan mudah beradaptasi bila melihat hal atau suasana baru lainnya.
3. Kegembiraan.
Rasa senang atau gembira bayi ditunjukkan dalam bentuk senyuman, tertawa, serta sikap menggerak-gerakkan kedua tangan dan kakinya. Rasa gembira pada bayi akan muncul mana kala Anda mengejaknya bercanda, berbicara, dan memperlihatkannya sesuatu yang ia sukai.
4. Rasa Ingin Tahu.
Benda yang pertama dilihatnya atau hal-hal yang menyolok dapat merangsang ingin tahu bayi. Ia menunjukkan rasa ingin tahunya dengan ekspresi wajah aseoerti, menegangkan otot muka, membuka mulut dan menjulurkan lidah. Kemudian bayi mulai mengambil benda yang menggelitik rasa ingin tahunya dengan memegang, membolak-balik, melempar atau memasukkan ke mulutnya. Tetapi terkadang rasa ingin tahu bayi bisa saja membahayakan seperti menarik-narik taplak meja karena bisa saja ia tertimpa benda yang berada di atasnya. Singkirkan benda-benda berbahaya sementara waktu dan alihkan perhatiannya pada hal-hal lain yang aman agar tetap terpenuhi rasa ingin tahunya.
5. Afeksi.
Yang ditunjukkan pada buah hati tercinta seperti kasih sayang, perhatian, perawatan akan menumbuhkan pula afeksi bayi. Ia akan menunjukkan sikap afeksinya dengan mencium atau memeluk orang, benda, atau binatang sebagai ungkapan rasa cintanya. Saat bayi terjaga ia menghendaki perhatian lebih dari orang-orang di sekitarnya. Mula-mula bayi merasa aman ditinggal lalu sesaat kemudian ia akan rewel dan marah untuk menunjukkan ia bosan dan ingin diperhatikan. Bertambahnya usia bertambah pula tuntutan bayi untuk diperhatikan dan dicintai.
sumber: kesekolah.com
Langganan:
Postingan (Atom)
-
Vitamin D atau calciferol adalah salah satu vitamin penting bagi kesehatan tubuh. Kekurangan vitamin D dapat meningkatkan resiko osteoporo...
-
Tidak dapat dipungkiri, bahwa keluarga merupakan lembaga pendidikan yang pertama dan utama bagi seorang anak. Peranan keluarga memiliki pot...
-
Berlibur atau liburan untuk anak-anak tidak selamanya hanya sekedar untuk bersenang-senang dengan menghabiskan waktu dan sejumlah uang s...






